Share on facebook
Home
Aman Membawa Senjata Tajam

 

Berita terbaru, seorang relawan SAR Gunung Merapi di Yogyakarta ditangkap oleh Polisi ketika sedang ada razia. Kebetulan relawan tersebut kedapatan membawa pisau lipat. Relawan SAR ini dijerat dengan  Undang-Undang Darurat No 12 Tahun 1954 dengan ancaman kurungan selama 20 tahun.



Bernard T. Wahyu Wiryanta Leader The Wildlife Photographers Community

Buat saya, yang hoby masuk-keluar hutan, naik-turun gunung, menyusuri pantai dan menjelajah laut, tentu saja pisau rimba yang serbaguna merupakan daftar bawaan nomor satu dalam list. Biasanya saya membawa 1 bilah pisau rimba dengan mata pisau sepanjang + 20 cm, plus pisau multi fungsi keluaran Victorinox. Dalam medan jelajah yang extreme, kadang masih saya tambah lagi bawaan berbahaya ini dengan kapak genggam. Buat mendaki tebing yang nyaris tegak lurus tanpa peralatan mountainering, kapak genggam ini sangat membantu. Juga bisa dipakai sebagai senjata lempar yang mematikan. Ketika ekspedisi dengan rute yang memang tidak ditentukan, kadang saya juga membawa parang tebas sepanjang 60 cm, untuk menebas alang-alang dan semak belukar yang menghalangi jalan.

 


Dengan semua peralatan ini - yang tentu saja bisa digunakan untuk merampok – bagaimana cara membawanya? Ketika perjalanan kami lakukan dengan membawa mobil sendiri tentu saja tidak masalah. Masalah akan timbul jika ada razia oleh Kepolisian.


Ketika ke Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, dan Papua pun, minimal saya membawa 2 senjata itu. Pisau rimba dan Victorinox. Lalu bagaimana cara melewati petugas keamanan di Pelabuhan Udara dan Pelabuhan Laut? Ketika akan masuk pesawat, kita akan melewati 2 kali pemeriksaan. Pemeriksaan pertama adalah di pintu masuk ke ruang tunggu. Di pintu masuk ini, biasanya petugas akan tahu kalau kita membawa senjata tajam, jenis apapun. Namun kadang dibiarkan oleh mereka. Perkiraan saya, mereka berasumsi senjata akan dimasukkan ke bagasi, bukan bagasi kabin.


Pemeriksaan kedua adalah ketika kita akan masuk pesawat. Disini sangat ketat. Anda tentu saja tidak diperkenankan membawa senjata tajam jenis apapun. Jadi ada aturannya. Senjata tajam sesuai aturan internasional dikategorikan masuk dalam bawaan terlarang ke kabin, atau masuk ‘security item’. Sama seperti senjata api, kedua jenis senjata ini harus dititipkan ke pilot. Caranya dengan menghubungi petugas di konter boarding. Beritahukan bahwa Anda membawa senjata api atau senjata tajam. Maka Anda akan dibuatkan formulir isian “security item”, senjata masuk amplop dan dibawa petugas yang bisa Anda ambil di bandara tujuan.

 

 

 

 

 

 

 

Namun jika tidak mau repot, masukkan saja ke ransel atau tas Anda yang masuk bagasi barang. Aman sudah.

Ini yang sering saya lakukan dalam perjalanan saya. Lalu bagaimana kalau sewaktu-waktu tertangkap tangan oleh Polisi. Lalu dijerat dengan tuntutan kedapatan membawa senjata tajam tanpa izin, atau kepemilikan senjata tajam dengan tidak sah? mengacu pada UU darurat, ancamannya 20 tahun.
Pada tahun 2000 saya pernah mengurus kepemilikan senjata tajam, sama seperti kepemilikan senjata api. Dari Polsek, saya disuruh ke Polres, dari Polres kemudian dilimpahkan ke Polda, dari Polda kemudian disuruh ke Polri, tepatnya ke Intelijen. Celakanya sesampainya di Trunojoyo (Mabes Polri), polisi disana menjawab bahwa untuk kepemilikan senjata tajam belum ada juklaknya, beda dengan senjata api yang peraturannya sudah jelas. Padahal saya sudah membuat surat permohonan kepemilikan senjata api ini langsung ke Kapolri, karena dari tingkat Polsek, Polres, dan Polda angkat tangan.


Lalu bagaimana ini urusannya, memiliki senjata tajam secara tidak sah, atau tanpa izin dikenai hukuman 20 tahun, ketika akan mengurus izin belum ada juklak alias peraturannya?


Saya tetap nekad membawa senjata saya ketika bepergian. Supaya aman ketika ada razia dari Kepolisian, solusinya adalah dengan membuat surat izin jalan, seperti zaman belanda dulu.


Surat izin jalan ini bisa dibuat oleh Kepolisian di tingkat resor atau Polres, yaitu kepolisian ditingkat Kabupaten atau kotamadya. Syaratnya adalah membuat surat permohonan dengan dilampiri fotocopy KTP. Dalam surat permohonan yang ditujukan ke Kapolres ini disebut juga rencana perjalanan, tujuan perjalanan ke mana saja, dalam rangka apa, dengan siapa saja, lamanya berapa hari, rute perjalanan, transportasi yang digunakan (darat-laut-udara dan jenisnya), atau kalau menggunakan kendaraan sendiri disebut jenis mobil dan nomer mobilnya. Dalam surat ini kemudian disebut juga barang bawaannya apa saja. Dalam kasus saya tentu saja akan saya sebut: perlengkapan fotografi (kamera, lensa, lampu, tripod, dll), ditambah kapak genggam, pisau rimba, dan pisau lipat. Sebutkan juga alasan membawa senjata ini. Saya akan menyebutkan untuk survival, mengambil contoh spesimen tumbuhan, dll.


Dengan surat permohonan ini (akan lebih baik kalau ada pengantar dari RT, RW, dan kelurahan – walaupun saya tidak pernah melakukan ini) pihak Intel di Polres kemudian atas nama Kapolres akan mengeluarkan surat izin jalan yang berisi informasi sebagai berikut:

  • Judul – Surat Keterangan Jalan
  • Nomor surat
  • Nama yang akan melakukan perjalanan
  • Pekerjaan ybs
  • Alamat ybs
  • Lokasi atau kota tujuan
  • Keperluan perjalanan
  • Tanggal berangkat
  • Tanggal kembali
  • Pengangkutan (alat transportasi yang digunakan)
  • Jumlah pengikut
  • Perlengkapan (yang dibawa)

Selanjutnya surat akan ada ketentuan-ketentuan yang harus dipatuhi oleh pembawa surat ini. Misalnya harus segera melapor di kepolisian setempat di tempat tujuan, segea melapor jika terjadi halangan atau hambatan, masa berlaku surat dll. Pada waktu dulu, di akhir surat selalu ditulis “kepada setiap petugas di lapangan agar membantu kelancarannya”. Kalimat sakti ini yang sering membantu saya di lapangan.


Nah dengan mengantongi surat ini, maka ketika ada razia oleh kepolisian maka kita akan aman, dan bawaan senjata tajam kita dianggap sah kita bawa karena kita melapor ke kepolisian.


Bagaimana, ribet dan bertele-tele prosedurnya. Tidak! Dengan mengurus dan membawa surat ini banyak kemudahan yang bisa kita dapat. Contohnya ketika bolak-balik ke Papua. Dalam salah satu perjalanan saya kesana, ketika melewati perbatasan antar kabupaten dan harus melapor saya tunjukkan surat jalan saya. Saya disambut baik dan proses lapor tidak bertele-tele. Bahkan saya dikawal oleh mereka ketika mengunjungi desa yang sedikit rawan. Juga dicarikan penginapan di rumah penduduk, dicarikan makanan, juga dibelikan rokok, gratis. Saya jadi ingat kalimat akhir di surat jalan saya “kepada setiap petugas di lapangan agar membantu kelancarannya”.

Kembali ke masalah relawan SAR Yogya yang ditahan, jika memang dia benar-benar relawan maka Kepolisian agaknya terlalu lebay. Seharusnya mereka bisa kross check di lapangan, kalau memang benar relawan cukup dikasih pengarahan saja. Tapi kalau memang bukan relawan sepatutnya memang dikurung selama 20 tahun. Dan juga untuk anak-anak dibawah umur yang belum bisa bertanggungjawab terhadap bawaannya juga tidak perlu diberi izin atau surat jalan. Surat ini nanti bisa saja disalahgunakan untuk membawa senjata pada saat tawuran atau untuk kegiatan negatif lain.

 


Powered by Joomla!. Designed by: flirting signs smtp settings Valid XHTML and CSS.